SEBAB – SEBAB PERDEBATAN


Ketika seoal-irsyad.or.id, dpp perhimpunan, perhimpunan alirsyadrang raja Romawi Armanus dan digantikan oleh puteranya Basil dan Qastantin. Sebagian panglimanya berambisi untuk mendapatkan kekuasaan. Di antara mereka yang berambisi tersebut adalah Saklarous yang dikenal dengan Wirdurrumi.

Dia mengumumkan perang kepada kedua putera raja tersebut, namun keduanya bisa mengalahkannya. Dia pergi ke ‘Adhudud Daulah untuk meminta perlindungan dan pertolongan. Kedua bersaudara tersebut mengetahui hal itu dan segera mengirimkan utusan yang bernama Naqfour ke ‘Adhudud Daulah untuk menggagalkan rencana Wird. Dia menawarkan kepada raja (‘Adhudud Daulah) untuk menyerahkan Wird kepada keduanya dengan bayaran akan melepaskan semua tawanan muslim yang ada di negeri Romawi.

‘Adhudud Daulah tertarik dengan penawaran tersebut, namun tidak ingin menyerahkan Wird. Dia melakukan pengelabuan di dalam menangkap dan menawannya. Dia menjanjikan kebaikan kepada Naqfour utusan kedua bersaudara dan mengutus al-Baqillani untuk membalas utusan. Al-Baqillani adalah seorang yang cerdas dan dekat dengan ‘Adhudud Daulah. Ditambah dengan terkumpulnya sifat genius, pintar, luas pengetahuan dan cepat tanggap. ‘Adhudud Daulah menginginkan misi politik ini dibarengi dengan misi agama yang keduanya diemban oleh al-Qadhi. Dengan demikian dia bisa mendebat orang-orang Nasrani dan menunjukkan kekeliruan agama, kelemahan argumentasi dan kerancuan akidahnya.

Ternyata betul, al-Qadhi berangkat dan terjadi dengan mereka cerita yang menghasikkan dan perdebatan yang mengagumkan. Kemenangan diraih oleh al-Qadhi dengan izin Allah Subhannahu wa ta’ala dan kekuatan argumentasi beliau melawan raja Nasrani dan pendeta-pendeta mereka. Beliau kembali ke ‘Adhudud Daulah dengan membawa proyek perdamaian dengan Nasrani untuk dilaksanakan. Dengan perjanjian damai ini ‘Adhudud Daulah berhasil mengembalikan sebagian tawanan.

Misi kedua dilanjutkan oleh Abu Ishaq bin Syahram dan beliau juga kembali dengan membawa proyek perdamaian yang lainnya. Hal ini bertepatan dengan sakit keras yang diderita oleh ‘Adhudud Daulah dan meninggal pada tanggal 8 Syawal 372 H. berikutnya perjanjian damai ditandatangani oleh putera beliau yaitu Shamshamud Daulah.

Jalannya Perdebatan

‘Adhudud Daulah mengutus al-Qadhi Abu Bakar al-Baqillani kepada raja Romawi. Beliau dikhususkan untuk mengangkat ketinggian Islam, kekuatan hujjah agama ini dan terangnya argumentasinya. Dan untuk menjelaskan kerancuan pada agama mereka, menampakkan kontradiksi aqidah mereka dan misi-misi lain yang telah disebutkan sebelumnya seperti misi perdamaian dengan mereka. Ketika al-Qadhi sudah bersiap-siap untuk keluar, salah satu menteri ‘Adhudud Daulah bernama Abul Qasim al-Muthahhar bin Abdullah berkata kepadany,”Saya telah mencari informasi dengan kepergianmu ini apakah ia beruntung atau sial (gagal)?

Al-Qadhi kemudian menjelaskan kesalahan akidah ini bahwasannya Islam berlepas diri dari tukang ramal dan tukang tenung. Kebaikan dan kejelekan semuanya dengan takdir Allah Subhannahu wa ta’ala, tidak ada hubungannya dengan ramalan. Sesungguhnya ilmu tentang ghaib adalah khusus milik Allah Subhannahu wa ta’ala untuk mengetahuinya, sebagaimana firmannya,

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ‌ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا ﴿٢٦﴾ إِلَّا مَنِ ارْ‌تَضَىٰ مِن رَّ‌سُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَ‌صَدًا ﴿٢٧﴾

“(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, Maka Sesungguhnya Dia Mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.(Qs. Al-Jin: 26-27).

Sesungguhnya kitab-kitab ramalan ditaruh agar orang yang jahil bisa hidup di tengah-tengah masyarakat.

Al-Wazir (Sang Menteri) berkata,” Datangkan kepadaku Ibnu Shuffi. Beliau adalah orang terkenal dalam masalah ini. Ketika dia datang kepadanya, sang Menteri menyuruhnya untuk mendebat al-Qadhi untuk membenarkan apa (ramalan) yang telah disalahkan oleh al-Qadhi sebelumnya.

Ibnu Shufi berkata,”Saya bukan orang yang ahli debat dan saya tidak bisa melakukannya. Saya hanya menghafal ilmu perbintangan (ramalan) dan mengatakan jika bintang ini muncul, maka akan begini dan begini. Adapun analisanya, maka itu termasuk ilmu ahli mantiq dan ahli kalam. Orang yang cocok untuk melakukan perdebatan tentang itu adalah Abu Sulaiman al-Mantiqi.

Abu Sulaiman kemudian dihadirkan dan disuruh untuk mendebat al-Baqillani,”Al-Qadhi ini mengatakan bahwasannya Allah Subhannahu wa Ta’ala Maha Kuasa atas sepuluh orang yang sedang menaiki kapal di sungai Dajlah tersebut, apabila dia telah sampai di ujung yang lain, maka Allah Subhannahu wa Ta’ala akan menambah mereka yang lainnya, sehingga berjumlah sebelas orang. Dengan demikian, maka orang yang ke-11 diciptakan ketika itu. Jika saya mengatakan bahwa Allah Subhannahu wa Ta’ala tidak mampu, maka itu mustahil, mereka akan memegangku dan melemparku ke sungai Dajlah. Tetapi jika permasalahannya seperti yang saya  sebutkan, maka perdebatanku dengannya tidak akan bermakna.

Al-Wazir menoleh ke al-Qadhi dan berkata, “Bagaimana pendapatmu wahai al-Qadhi? Saya (al-Qadhi) berkata, ”Pembicaraan kita bukan masalah kekuasaan Allah Subhannahu wa Ta’ala karena Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, sekali pun diingkari oleh sang pengingkar ini. Namun pembicaraan kita tentang pengaruh bintang-bintang ini. Dia mengalihkan pembicaraannya karena ketidakmampuannya dan ketidaktahuannya. Kalau tidak demikian, maka apa gunanya mengomentari kekuasaan Allah Subhannahu wa Ta’ala dalam permasalahan kita ini? Jika saya mengatakan bahwa Allah Subhannahu wa Ta’ala mampu untuk melakukan hal itu, maka aku tidak mengatakan bahwa Allah Subhannahu wa Ta’ala melakukannnya sekarang. Dengan demikian, maka al-Wazir mengetahui bahwa dia melarikan diri dari permasalahan.

Al-Wazir berkata,”Dia seperti yang anda katakan. Al-Mantiqi berkata, ”Perdebatan adalah kebiasaan dan pengalaman, saya tidak mengenal perdebatan dengan orang-orang seperti mereka. Mereka tidak mengetahui keadaan dan ibarat-ibarat kami. Perdebatan tidak mungkin dilakukan dengan orang-orang yang seperti ini keadaannya.

Al-Wazir berkata, “Kami menerima alasanmu, kebenaran sudah jelas”. Al-Wazir menoleh kearah Al-Baqillani dan berkata kepadanya, “Berangkatlah dengan penjagaan Allah Subhannahu wa Ta’ala.

Al- Qadhi berkata: “Saya keluar dan masuk ke negeri Romawi sehingga sampai pada raja yang berada di Konstantinopel. Raja diberitahu kedatangan kami dan mengutus seorang untuk menemui kami. Dia (utusan) itu berkata, “Jangan masuk menemui raja dengan memakai surban kalian sampai dilepas, kecuali sekedar saputangan yang tipis dan juga menanggalkan sepatu-sepatu kalian.

Al-Qadhi berkata, “Saya tidak akan melakukan hal itu dan saya tidak akan masuk kecuali dengan penampilan dan pakaian seperti ini. Jika kalian rela (maka saya akan masuk) dan jika tidak, maka ambil kitab ini untuk kalian baca dan kalian kirimkan jawabannya dan saya akan kembali dengannya.”

Hal itu disampaikan kepada raja dan berkata, ”Saya ingin mengetahui sebab (menolak melepas surban dan sepatu) dan alas an penolakannya karena itulah peraturan resmi yang berlaku pada semua utusan.

Al-Qadhi menjawab masalah ini dan berkata, “Saya adalah salah seorang dari ulama muslim. Sementara yang anda inginkan dari kami adalah termasuk kehinaan dan kekerdilan. Padahal Allah Subhannahu wa ta’ala telah mengangkat kami dengan Islam dan memuliakan kami dengan Nabi kami Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan juga kebiasaan para raja apabila mengutus utusannya kepada raja yang lain, mereka menghormati kedudukan utusannya dan tidak bermaksud menghinakannya, apalagi utusan tersebut termasuk orang yang berilmu. Merendahkan martabat mereka termasuk penghancuran terhadap kedudukannya di sisi Allah Subhannahu wa ta’ala dan di tengah orang-orang muslim. Dan jika aku melakukan apa yang mereka inginkan, maka orang-orang Islam akan menghinaku dan mencela agamaku sehingga aku akan jatuh dari pandangan mereka. Jika kalian menginginkan saya masuk, maka saya akan masuk sebagaimana saya masuk menghadap khalifah. Dan jika anda tidak suka, maka silahkan membaca kitab kami dan berikan jawabannya. Kemudian biarkan kami kembali ke saudara kami dan kami tidak ada kepentingan untuk bertemu dengan kalian.

Sang raja mengetahui bahwa al-Qadhi tidak akan mau sujud kepadanya sebagaimana kebiasaan rakyat yang mencium tanah di hadapan raja-rajanya. Dia membuat siasat agar al-Qadhi melakukan sebagian dari hal itu. Dia menaruh singgasananya di belakang pintu masuk, sehingga tidak mungkin seorang akan bisa masuk kecuali dengan cara ruku’. Al-Qadhi pun akan masuk menemuinya dengan cara seperti itu (ruku). Itu sebagai pengganti dari sujud dan mencium tanah di hadapannya.

Ketika raja duduk di singgasananya, dia menyuruh al-Qadhi masuk melalui pintu tersebut. Ketika melihat raja, al-Qadhi berpikir dan mengethui bahwasannya di sini ada siasat, beliau membalikkan badannya dan menundukkan kepalanya dengan ruku’ dan masuk melewati pintu tersebut dengan mundur, sehingga menghadapnya dengan duburnya sampai di hadapannya. Setelah itu baru beliau mengangkat wajahnya dan menegakkan punggungnya ketika berada di hadapannya. Sang raja kagum dengan kecerdasannya dan wibawa beliau terangkat di hati raja.

Al-Qadhi berkata, ”Saya masuk menemuinya dengan bajuku yang bagus dan surban serta selendangku. Ketika pandangannya tertuju kepadaku, diai menyuruhku mendekat dan mengangkatku di atas semua orang. Dia mulai bertanya tentang pakaianku?

Saya berkata, ”Dengan pakaian ini kami menemui Rajaku Yang Agung (Allah Subhannahu wa ta’ala), kepada penguasa kami yang mulia yang Allah Subhannahu wa ta’ala dan RasulNya memerintahkan kami untuk mentaatinya. Mereka tidak pernah melarang kami dengan pakaian ini, karena kami termasuk salah seorang ulama kaum muslimin. Apabila saya menemui anda dengan bukan penampilan ini dan kembali kepada hukum anda, maka saya telah menghinakan ilmu dan diri saya dan kehormatanku akan hilang di hadapan orang-orang muslim.”

Lalu kemudian sang raja berkata kepada penerjemahnya, “Katakan kepadanya bahwasannya kami telah menerima alasanmu dan mengangkat derajatmu. Kedudukan anda di hadapan kami tidak sama dengan kedudukan para utusan yang lainnya, kedudukan anda di hadapan kami adalah kedudukan orang mulia dan terhormat.

Al-Qadhi berkata, “Saya telah menyampaikan misi kemudian dia membaca kitab, yang di dalamnya terdapat kalimat: “Dan saya telah mengutus kepadamu lisan orang yang beragama, sebagai pengagungan dan penghormatan kepadamu.”

Dia (Raja) berkata kepadaku,” Apa maksud kalimat ini?

Saya berkata, “Saya seorang yang berbicara tentang terjadinya alam ini dan menetapkan Penciptanya, sifat yang wajib bagiNya, yang mustahil atasnNya dan yang boleh pada hukumNya. Saya juga berbicara tentang keesaanNya dan membantah orang-orang Barahimah, Mannaniyah, Majusi, Yahudi dan Nasrani. Saya menjelaskan apa yang saya anggap benar dari segi akal dan apa yang berkaitan dengannya dari segi naql (wahyu). Saya menerangkan semua itu dengan argumentasi yang jelas. Saya juga pernah membantah 72 kelompok dan argumentasi saya yang menang.

Raja berkata, “Saya ingin untuk mengetahui hal itu dan mendengarnya sebagaimana yang anda sampaikan.”

Al-Qadhi berkata,”Apabila raja berkenan.”

Raja berkata, “turunlah ke tempat yang saya sudah siapkan dan cerita itu dilakukan setelah pertemuan ini.”

Al-Qadhi berkata, “Saya turun ke tempat yang telah disiapkan untuk kami.”

Ibnu Katsir berkata, “Dikatakan bahwasannya Raja telah dibawakan ke hadapannya sebuah alat music yang disebut al-Arghal untuk menghilangkan akal dengannya. Ia adalah alat yang tidak ada seorang pun yang mendengarnya kecuali akan terlena (ikut menyanyi dan menari), suka atau tidak suka. Ketika al-Baqillani mendengar hal itu beliau takut dengan dirinya untuk tampak gerakan yang mengurangi (kewibawaan) di hadapan raja. Beliau tidak segan-segan mengiris kakinya sehingga terluka dan mengeluarkan darah yang banyak. Dengan begitu, beliau tersibukkan oleh lukanya sehingga tidak terlihat dari beliau perbuatan yang bisa mengurangi (kewibawaan) dan merendahkan (martabatnya). Sang Raja kagum dengan hal itu, setelah itu masalahnya diketahui yaitu beliau melukai dirinya agar disibukkan dari mendengar alat musik. Raja semakin mengetahui keteguhan dirinya dan ketinggian semangatnya.”

Sang raja megutus orang untuk menjemput al-Qadhi dan berkata, “Termasuk kebiasaan seorang utusan adalah menghadiri jamuan makan, maka kami menginginkan anda untuk memenuhi undangan kami dan tidak mengurangi semua peraturan kami.

Saya (al-Qadhi) berkata kepada utusan tersebut, “Saya adalah termasuk salah seorang ulama Islam, dan bukan seperti kebanyakan utusan dari kalangan tentara dan lainnya, yang mereka tidak mengetahui apa yang harus mereka lakukan dalam keadaan seperti ini. Paduka raja pasti mengetahui bahwasannya ulama’ tidak dibolehkan untuk masuk ke tempat ini sedang mereka mengetahuinya. Saya khawatir di meja makan kalian ada daging babi dan sesuatu yang telah di haramkan oleh Allah Subhannahu wa ta’ala dan RasulNya.

Kemudian sang penerjemah pergi menemui al-Qadhi dan berkata, “Raja berkata kepada anda: ”Tidak ada di atas meja makanan yang anda tidak sukai. Saya telah berbuat baik dengan apa yang telah saya lakukan. Anda di hadapan kami bukan seperti utusan-utusan yang lainnya, bahkan lebih agung. Apa yang anda tidak sukai seperti daging babi berada di luar meja makan saya, dan antara saya dengannya ada dinding.

Al-Qadhi berkata, ”Saya mengikuti keinginannya dan duduk, kemudian dihidangkan makanan. Saya mengulurkan tangan dan ingin makan, namun tidak jadi memakan sedikitpun dari makanannya, walaupun saya tidak pernah melihat di atas meja makanannya sedikitpun yang diharamkan. Setelah jamuan selesai, majlis diberi bukhur (asap ghaharu)dan wewangian.

Raja kemudian berkata, “Sebuah mu’jizat yang diakui oleh nabimu berupa terpecahnya bulan, bagaimana pendapat anda tentang hal itu?

Saya berkata,”Menurut kami itu benar, bulan pernah terpecah pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan orang-orang bisa melihat hal itu. Namun yang bisa melihatnya adalah orang-orang yang hadir dan pandangannya tepat mengenai bulan tersebut pada saat kejadian.

Raja berkata, “Bagaimana hal itu tidak bisa dilihat oleh semua orang?

Saya menjawab, “Karena orang-orang tidak berada pada saat yang sama ketika terbelahnya bulan dan tidak menghadirinya.

Dia berkata, “Antara kalian dan bulan itu ada hubungan atau kedekatan, kenapa orang Romawi dan orang lainnya tidak mengetahuinya? Hanya khusus dilihat oleh kalian saja, padahal kalian sudah tahu bahwasannya bulan berada di langit yang bukan di khususkan untuk kalian?

Saya berkata, “al-Maidah ini antara kalian dengannya ada hubungan. Kalian bisa melihatnya sementara Yahudi, Majusi, Barahimah dan orang Ateis, khususnya orang Yunani sebagai tetangga kalian mengingkarinya. Mereka semuanya mengingkari hal ini kalian bisa melihatnya sementara yang lainnya tidak bisa.

Raja bingung kemudian terlontar dalam perkataannya, “Maha Suci Allah Subhannahu wa ta’ala “dia menyuruh untuk dihadirkan seorang Qissis (pendeta) untuk berbicara dengan saya. Raja berkata, “Kita tidak akan mampu menghadapinya, karena temannya mengatakan bahwa tidak ada seorangpun di dalam kerajaan anda yang sama dengannya dan tidak ada seorang muslim pada masanya yang menyamai dia.

Al-Qadhi berkata, “Saya tidak merasa, tiba-tiba sudah didatangkan seorang yang seperti srigala dengan rambut berurai. Dia kemudian duduk dan saya ceritakan permasalahannya.

Dia berkata, “Apa yang dikatakan oleh seorang muslim ini adalah lazim dan benar. Saya tidak mengetahui jawaban kecuali apa yang telah dia sebutkan.”

Al-Qadhi berkata kepadanya, “Bukankah anda mengaku bahwasannya bumi ini bulat? Dia menjawab, “ya’’

Saya berkata, “Apakah anda mengingkari bahwa sesuatu bisa dilihat di alam ini, apa yang tidak bisa dilihat oleh yang lainnya, seperti gerhana yang dilihat di sebuah tempat namun tidak terlihat di tempat lain. Begitu juga dengan planet di langit bisa dilihat di suatu tempat  tapi tidak bisa di tempat yang lain. Atau anda mengatakan bahwa apabila gerhana terjadi, maka akan terlihat oleh seluruh penduduk bumi?

Sang pendeta berkata, “Bahkan tidak bisa dilihat kecuali oleh orang yang bertepatan dengannya.”

Saya berkata, “Kenapa kalian mengingkari terbelahnya bulan, ketika ia berada di satu sisi dan tidak dilihat kecuali oleh orang yang berada di arah tersebut dan oleh orang yang sudah siap untuk melihatnya. Adapun orang yang berpaling darinya atau berada di tempat yang bulan tidak bisa dilihat di sana, maka dia tidak bisa melihatnya.

Dia berkata, “Dia benar seperti yang dikatakannya, tidak ada seorangpun yang bisa membantah anda. Permasalahannya adalah pada riwayat yang menukilnya. Adapun celaan pada selain itu, maka tidak benar.”

Raja berkata, “Bagaimana dia dicela dari segi penukilan?”

Qissis berkata, “Tanda-tanda yang semirip dengan ini apabila benar, maka wajib dinukil oleh jumlah yang banyak sehingga sampai kepada kita secara ilmu. Seandainya itu terjadi niscaya akan terjadi pada kita ilmu dharuri dengannya. Ketika tidak terjadi ilmu dharuri dengannya, maka informasi tersebut tidak benar dan batil.

Sang raja menoleh dan berkata, “Berikan jawaban!

Al-Qadhi berkata, “Konsekwensi yang sama akan terjadi pada masalah al-Maidah seperti yang terjadi pada terbelahnya bulan. “Dikatakan tentangnya, “Jika turunnya Maidah benar, niscaya dinukil (disampaikan) oleh jumlah yang banyak. Tidak ada yang tersisa seorang dari kalangan Yahudi, Nasrani dan Tsanawi kecuali mengetahui hal tersebut dengan dharuri, maka menunjukkan bahwa khabar tentang al-Maidah juga dusta. “ Lalu semua orang-orang Nasrani, raja dan yang ada di majlis terheran dan terdiam. Majlis berakhir sampai masalah ini.

www.al-irsyad.or.id

Dikutip dari : Debat Menakjubkan (antara Imam al-Baqillani dengan Raja dan Pendeta Nasrani)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: