Amirul Mukminin Al- Faruq


omar-bin-khattab

Di masa jahiliyah, ada seorang tokoh kafir quraisy. Dia sombong di atas kebatilan. Setelah masuk Islam, beliau menjadi tokoh pembela kebenaran. Beliau masuk Islam pada tahun keenam dari massa kenabian. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah berdoa,”Ya Alloh,  jayakanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang lebih Engkau cintai,’Umar bin Al-Khoththob atau ‘Amr bin Hisyam (Abu Jahl).”

Ternyata Alloh memilih ‘Umar bin Al-Khoththob Radhiyallahu ‘anhu. Keislamannya menggetarkan hati orang-orang kafir. Keislamannya mendatangkan kekuatan dan kemuliaan bagi kaum muslimin. Perannya untuk kejayaan Islam begitu besar. Alloh memisahkan/membedakan kebenaran dan kebatilan melalui beliau. Karena itulah beliau dijuluki “Al-Faruq”, yang artinya pemisah/pembeda.

‘Umar bin Al-Khoththob Radhiyallahu ‘anhu adalah shohabat yang paling utama setelah Abu Bakr As-Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah orang yang sangat takut kepada Alloh. Suatu hari dia berkata dengan penuh kesedihan,”Duhai, seandainya ibuku tidak melahirkan aku ke dunia ini!

Celaka aku, seandainya Alloh tidak mengampuni dosa-dosaku.” Sifat tawadhu’ menghiasi dirinya. Beliau adalah manusia yang jauh dari sifat sombong. Pada suatu hari, ada seseorang yang berkata kepada beliau, “Bertakwalah engkau kepada Alloh!” beliau tidak marah atau menghukumnya. ‘Umar membalas orang itu dengan lemah lembut, “Tidak ada kebaikan pada kalian, jika kalian tidak mau mengucapkannya.

Dan tidak ada kebaikan pada kita, jika kita tidak mau menerimanya.” Beliau adalah laki-laki yang sangat pemberani. Sampai-sampai syaithon takut bila bertemu dengan beliau. Syaithon akan memilih jalan lain bila bertemu dengan ‘Umar bin Al-Khoththob Radhiyallahu ‘anhu. ‘Umar bin Al-Khoththob Radhiyallahu ‘anhu adalah seorang pemimpin yang adil. Beliau sangat memperhatikan rakyatnya.

Beliau juga sangat berkasih sayang terhadap rakyatnya. Pada suatu malam yang dingin, beliau melihat ada yang menyalakan api. Ternyata ada seorang ibu sedang memasak sesuatu di tungku perapian. Dan anak-anak ibu itu berteriak-teriak sambil menangis. Anak-anak itiu kelaparan. Ibu itu berusaha menenangkan anak-anaknya. Ibu itu pura-pura memasak. Akhirnya anak-anak itu tertidur.’Umar bin Khoththob Radhiyallahu ‘anhu pun mendatangi ibu itu. Ibu itu tidak tahu kalau yang datang adalah ‘Umar bin Al-Khththob Radhiyallahu ‘anhu. Ibu itu berkata, “Sungguh ‘Umar telah menelantarkan kami. ‘Umar menyia-nyiakan kami.”

‘Umar bin Al-Khththob Radhiyallahu ‘anhu mendengar perkataan ibu itu. Beliau bergegas mengambil kantong berisi tepung dan lemak. Kemudian menyerahkannya kepada ibu itu. Akhirnya mereka bisa makan sampai kenyang.

Di saat beliau berusia senja, beliau selalu berdoa kepada Alloh Ta’ala, “Ya Alloh, sesungguhnya usiaku telah lanjut dan rakyatku telah tersebar.

“Ya Alloh, wafatkanlah aku dalam keadaan tidak menyia-nyiakan mereka.” Pada tahun 23 Hijriyah beliau terkena musibah. Ketika sedang sholat, beliau ditikam dengan pisau yang besar. Beliau ditikam oleh seorang Majusi, sehingga beliau wafat. Orang Majusi itu bernama  Abu Lu’lu’ah.(Z)

Dikutip dari: www.al-irsyad.or.id

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: