Hukum Mengucapkan Selamat NATAL


NoCuttingChristmasTrees_000Mengucapkan “Happy Christmas”(Selamat Natal) atau perayaan keagamaan non Muslim lainnya adalah HARAM hukumnya menurut kesepakatan para ulama (IJMA’),karena hal itu mengandung persetujuan terhadap syi’ar2 kekufuran yang mereka lakukan dan meridlai hal itu sementara Allah Ta’ala dan Rasul-Nya tidak meridlainya.

Allah Ta’ala berfirman,artinya,“Jika kamu kafir,maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya dan jika kamu bersyukur,niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.”(QS.az-Zumar:7)

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dantelah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu.”(QS.al-Ma`idah:3)

Bila mereka mengucapkan selamat berkenaan dengan hari-hari besar mereka kepada kita,maka kita tidak boleh menjawabnya karena hari-hari besar itu bukanlah hari-hari besar kita.Juga karena ia adalah hari besar yang tidak diridlai Allah Ta’ala, baik disebabkan amalan yang mengada-ada ataupun disyari’atkan di dalam agama mereka akan tetapi hal itu semua telah dihapus oleh Dienul Islam yang dengannya Nabi Muhammad  Shallallahu Alaihi Wasallam diutus Allah kepada seluruh makhluk.

Allah berfirman,artinya,“Barangsiapa mencari agama selain dar iagama Islam,maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”(QS.Ali ‘Imran:85)

Oleh karena itu,hukum bagi seorang Muslim yang memenuhi undangan mereka berkenaan dengan hal itu adalah HARAM karena lebih besar dosanya daripada mengucapkan selamat kepada mereka berkenaan dengannya. Memenuhi undangan tersebut mengandung makna ikut berpartisipasi bersama mereka di dalamnnya.

Demikian pula,HARAM hukumnya bagi kaum Muslimin menyerupai orang-orang Kafir,seperti mengadakan pesta-pesta berkenaan dengan hari besar mereka tersebut,saling berbagi hadiah,membagi-bagikan makanan, dan semisalnya.

Nabi bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum,maka dia termasuk bagian dari mereka.”(HR.Abu Daud)

Semoga bermanfa’at.

[Rujukan: Majmu’ Fatawa Fadlilah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, Jld.III, h.44-46, No.403 secara ringkas]

Dikutip dari : www.asofwa.com

Dipublikasikan kembali oleh: http://al-irsyad.or.id/

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: