Mas Kawin Hanya 2 Riyal


Ditulis oleh :Ustadz Nurhadi Susriyanto, Lc

www.al-irsyad.or.id

Ada kisah menarik berkenaan dengan mas kawin yang perlu disimak dan direnungkan dengan seksama. Kenapa? Karena di dalam kisah ini terdapat hal yang berbeda sekali dengan kebiasaan masyarakat pada umumnya. Dapat dibayangkan ketika mas kawin di beberapa tempat di Saudi ditetapkan  nilainya rata-rata mencapai 30 ribu riyal atau senilai 75 juta ternyata masih ada orang tua yang hanya memintanya hanya 2 riyal  atau senilai 5 ribu saja.

Dikisahkan bahwa ada seorang ayah asli Saudi meminta kepada suami anaknya yang telah menyerahkan mas kawin sebesar 2 riyal atau senilai 5 ribu rupiah agar dia selalu menjaga dan membimbing anaknya. Hal ini sebagai gambaran bahwa keluarganya telah membeli diri laki-laki tersebut yang diperuntukkan bagi anak perempuannya.

Syekh Abdul Hakim Ahmad Haddad ayah pengantin wanita tersebut merupakan pensiunan Angkatan Udara. Dia mengatakan bahwa dirinya tidak memandang kepada besarnya mas kawin. Dan dia meyakinkan dirinya bahwa mas kawin senilai 2 riyal itu cukup baginya. Dia ingin menunjukkan bahwa yang ditempuh oleh dirinya merupakan upaya dalam mengikuti sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dia melanjutkan ucapannya bahwa hendaknya warga Saudi mengambil pelajaran yaitu jika semua wali memberikan keringanan dalam masalah mas kawin maka permasalahan yang berkaitan dengan anak gadis yang telat menikah akan hilang dengan sendirinya dari masyarakat. Demikian sepenggal kisah tentang mas kawin senilai 5 ribu yang telah dilansir oleh alyaum.com.

Kisah di atas merupakan upaya sebagian orang tua untuk ikut memberikan solusi bagi permasalahan sosial yang terjadi di masyarakatnya. Hal ini dikarenakan banyaknya orang tua yang tidak akan menerima mas kawin jika jumlahnya kurang dari kebiasaan masyarakat di daerahnya. Padahal nilai yang ditetapkan untuk mas kawin tidaklah kecil dan terkadang sangat memberatkan bagi para pemuda untuk menikah. Tidak hanya itu keputusan tersebut juga memberikan dampak bagi keluarganya sendiri yaitu banyaknya anak gadis yang telat menikah.

Mahalnya mas kawin yang ditetapkan oleh para wali dikatakan sebagai bentuk penjagaan mereka kepada para anak gadisnya agar benar-benar mendapatkan suami yang sungguh-sungguh dan bertanggungjawab.

Memang diperbolehkan bagi seorang laki-laki memberikan mas kawin dalam jumlah yang banyak kepada istrinya. Allah berfirman,

وَإِنْ أَرَدتُّمُ اسْتِبْدَالَ زَوْجٍ مَّكَانَ زَوْجٍ وَءَاتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنطَارًا فَلاَتَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا أَتَأْخُذُونَهُ بهُتْاَناً وَإِثْمًا مُّبِينًا

Dan kamu memberikan kepada seorang di antara mereka (istri-istri) harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya walau sedikitpun.” (An-Nisa’: 20). Pembolehan tersebut bukan berarti dibenarkannya  menuntut mas kawin dalam jumlah besar yang melampaui kemampuan suami.

Jika tuntutan terhadap mas kawin dalam jumlah banyak tetap dilakukan maka itu menjadi suatu perbuatan yang tercela. Abu Hurairah menyatakan bahwa Nabi saw. Bertanya kepada seorang laki-laki yang baru menikah dengan wanita Anshar, “Berapa mahar yang engkau berikan untuk menikahinya?” Laki-laki itu menjawab, “Empat Uqiyah.” Nabi saw. Berkata, “Empat Uqiyah? Bagimu, itu sama itu sama dengan memahat bebatuan sepanjang gunung ini.” (h.r. Muslim dan An-Nasa’i).

Islam telah menuntun umatnya agar meringankan mas kawin dan tidak boleh menuntut mas kawin yang tinggi. Rasulullah saw. bersabda,

خَيْرُ الصَّدَاقِ أَيْسَرُهُ

“Mas kawin yang paling baik adalah yang paling mudah” (h.r. Hakim)

Perlu diperhatikan bahwa mas kawin merupakan hak wanita yang mesti ditunaikan oleh suaminya bukan menjadi hak para wali. Hukumnya adalah wajib menurut kesepakatan para ulama. Oleh karenanya ringan dalam mas kawin itu yang sangat dianjurkan oleh Islam.

Jika banyak para wali yang menuntut mas kawin dalam jumlah besar maka akan menimbulkan dampak negatif berikut ini:

  1. Memperbanyak jumlah bujang lapuk dan perawan tua.
  2. Menimbulkan kerusakan moral pada pemuda dan pemudi, ketika mereka merasa pesimis untuk dapat menikah sehingga berusaha menyalurkan hasratnya dengan cara yang lain.
  3. Munculnya penyakit mental yang disebabkan oleh angan-angan mereka untuk menikah di satu sisi dan putus asa untuk melakoninya di sisi yang lain.
  4. Berkurangnya rasa patuh kepada orang tua. Para pemudi ketika dia menyangka pemudanya tidak sanggup untuk menyiapkan mas kawin dia pun mencari peluang untuk meninggalkan orang tuanya dengan menyibukkan diri untuk dekat dengan kekasihnya lewat media sosial.

Besarnya mas kawin bisa menjadi solusi bagi kehidupan masyarakat terutama para pemuda dan pemudi yang siap untuk menikah. Dengan dimahalkannya maka mereka dituntut untuk kerja keras dan bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Namun meringankan mas kawin merupakan solusi yang lebih baik lagi bagi mereka yang tidak mempunyai kesempatan untuk mendapatkannya dalam jumlah yang besar.

Hal terpenting lagi yaitu tetap menanamkan pemahaman agama yang lurus bagi para remaja agar mereka benar-benar memahami perannya di mata keluarga dan masyarakat. Jika nilai-nilai agama itu telah tertanam maka celah-celah yang menjurus kepada bentuk pelanggaran sosial seperti pergaulan bebas yang menyebabkan banyaknya perzinaan dapat dihindari.

Bukankah dalam Islam nikah itu untuk menjaga pandangan dan memelihara syahwat birahi? Oleh karenanya wahai para wali mudahkanlah dalam mas kawin. Mudah-mudahan keberkahan akan mengelayuti mereka dan lahir generasi-generasi yang akan meneruskan estapeta dakwah Islam.  Allahu A’lam bishshawwab. (nhs, 13/11/12)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: