Ketika suami berkata : “Pulang saja ke orang tuamu!”


Pertanyaan :

Assalaamu’alaykum yaa ustadz.

semoga ustadz dan sekeluarga selalu dalam perlindungannya. ustadz, ana dan zawji sudah menikah selama 4 tahun dan sudah dikaruniai anak 1. setiap kami ada masalah kecil maupun besar, suami selalu mengucapkan kepada istrinya, dengan kata ucapan “Sana kamu pulang saja di orangtuamu”, apakah itu termasuk suami mentalak istrinya? karena sudah berkali-kali dengan ucapan seperti itu, ustadz.Barakallohu fiikum…

Jawaban :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Terimakasih atas do’a ukhti, semoga Allah juga senantiasa menjaga ukhti dan seluruh kaum muslimin dimanapun mereka berada.

Sebelumnya kami turut bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kenikmatan kepada ukhti sekeluarga berupa anak. Betapa anak merupakan satu anugrah yang diharapkan oleh banyak orang, termasuk Nabi Zakaria ‘alaihis salam, sebagaimana do’a beliau yang diabadikan didalam Al-Qur’an :

كهيعص (1) ذكر رحمة ربك عبده زكريا (2) إذ نادى ربه نداء خفيا (3) قال رب إني وهن العظم مني واشتعل الرأس شيبا ولم أكن بدعائك رب شقيا (4) وإني خفت الموالي من ورائي وكانت امرأتي عاقرا فهب لي من لدنك وليا (5) يرثني ويرث من آل يعقوب واجعله رب رضيا (6)

Kaaf Haa Yaa ‘Ain Shaad. (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria. Yaitu tatkala ia berdo’a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut, ia berkata “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada Engkau. Ya Tuhanku, sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai” [Q.S. Maryam : 1-6]

Maka jagalah dan didiklah anak ukhti sesuai dengan apa yang diridhoi Allah dan RasulNya.

Selanjutnya mengenai pertanyaan ukhti, yang terkait dengan hukum perceraian. Kami mencoba menjawab dengan beberapa point berikut :

LARANGAN BERCANDA DALAM HAL TALAK

Dalam sebuah hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ثلاث جدهن جد ، وهزلهن جد ، النكاح ، والطلاق ، والرجعة

“Ada tiga perkara yang seriusnya adalah serius dan bercandanya (juga dianggap) serius, (yaitu) nikah, talak, dan roj’ah”. [H.R. At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Al-Hakim dari sahabat Nabi Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, hadits ini dihukumi hasan oleh Syekh Al-Albani rahimahullah].

Dan dalam riwayat At-Thobari, dari sahabat Nabi Fadholah bin Ubaidah radhiyallahu ‘anhu :

ثلاث لا يجوز اللعب فيهن : الطلاق والنكاح والعتق

“Ada tiga perkara yang tidak boleh bermain-main dengannya : talak, nikah dan ‘itq (membebaskan budak)”.

Dalam hal ini, seluruh ulama telah bersepakat bahwa jika seorang suami mengucapkan pernyataan talak dengan lafadz yang shorih (jelas dan terang), maka hal tersebut berlaku hukum talak, meskipun seandainya hal tersebut dilakukan hanya dengan tujuan bercanda.

Berkata imam Al-Khattabi rahimahullah :

اتفق عامة أهل العلم على أن صريح لفظ الطلاق إذا جرى على لسان الإنسان البالغ العاقل فإنه مؤاخذ به، ولا ينفعه أن يقول: كنت لاعباً أو هازلاً أو لم أنوه طلاقاً.. أو ما أشبه ذلك من الأمور

“Seluruh ahli ilmu telah bersepakat bahwa lafadz talak yang shorih apabila terucap dari lisan seseorang yang telah mencapai akil baligh, maka perkataan tersebut terambil hukumnya. Dan tidak ada gunanya apabila dia berkelit dengan mengatakan : aku hanya bercanda, aku tidak serius, aku tidak meniatkan talak, atau alasan-alasan yang lainnya…”

Maka dalam hal ini, sebaiknya kaum muslimin berhati-hati supaya tidak terperosok dalam perkara ini.

APA ITU LAFADZ SHORIH?

Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan berkata :

وألفاظ الطلاق تنقسم إلى قسمين :

القسم الأول : ألفاظ صريحة : وهي الألفاظ الموضوعة له ، التي لا تحتمل غيره ، وهي لفظ الطلاق وما تصرف منه؛ من فعل ماض؛ كـ (طَلَّقْتُكِ)، واسم الفاعل؛ كـ (أَنْتِ طَالِقٌ)، واسم المفعول؛ كأن يقول (أنت مطلقة) دون المضارع والأمر؛ مثل (تطلقين) و (اطلقي) ، واسم الفاعل من الرباعي؛ كـ (أنت مطلقة) ؛ فلا يقع بهذه الألفاظ الثلاثة طلاق؛ لأنها لا تدل على الإيقاع.

Lafadz talak terbagi menjadi dua :

Bagian pertama : Lafadz shorih, yaitu lafadz asli yang memang digunakan untuk perkara ini, yang tidak menganduk makna selainnya, yaitu lafadz TALAK (الطلاق) dan yang tertashrifkan darinya. Baik itu fi’il madhi, seperti ucapan “Aku telah ceraikan kamu”; atau ismul fa’il, seperti ucapan “Kamu cerai”; atau ismul maf’ul, seperti ucapan “kamu terceraikan”. Namun tidak berlaku pada fi’il mudhori’ dan amr, seperti ucapan “kamu akan cerai” atau “ceraikanlah” atau ismul fa’il ruba’i, seperti ucapan “kamu menceraikan”, tiga contoh terakhir tidak berlaku pada perkara talak, karena tidak menunjukkan hal tersebut.

القسم الثاني : ألفاظ كنائية : وهي الألفاظ التي تحتمل الطلاق وغيره، كأن يقول لها : أنت خلية وبرية وبائن، وأنت حرة، أو أخرجي والحقي بأهلك … وما أشبه ذلك

Bagian kedua : lafadz kinayah, yaitu lafadz yang mengandung makna talak dan selainnya, seperti ucapan “kamu menyendiri, lepas, terpisah, dan bebas” atau ucapan “keluarlah dan kembalilah kepada keluargamu”… atau yang semisal dengan kata-kata tersebut.

APA BEDANYA ANTARA LAFADZ SHORIH DENGAN KINAYAH?

Sebagaimana kami sebutkan perkataan Imam Al-Khattabi diatas, bahwa seorang yang mengucapkan kepada istrinya lafadz talak shorih maka berlakukah hukum talak, meskipun orang tersebut tidak meniatkannya.

Sedangkan jika seorang suami mengucapkan kepada istrinya lafadz kinayah, maka tidak serta merta jatuh talak atasnya. Namun pengucapkan tersebut sesuai dengan niat yang ada didalam hatinya, jika dia berniat dengan ucapannya tersebut untuk menceraikan istrinya, maka jatuhlah talak atasnya, hal ini adalah yang disepakati oleh seluruh ulama dari 4 madzhab.

Namun jika dia tidak berniat menceraikan istrinya dengan lafadz kinayah, tetapi terdapat qorinah dalam ucapannya, para ulama berselisih pendapat dalam hal ini.

QORINAH DALAM LAFADZ KINAYAH

Qorinah adalah sebuah hal atau keadaan yang memperkuat dugaan terhadap sesuatu. Dalam hal ini qorinah talak yaitu hal-hal atau keadaan yang memperkuat dugaan maksud cerai ketika talak tersebut diucapkan dengan lafadz kinayah.

Diantara qorinah talak yang disebutkan oleh para ulama adalah :

1.Ketika terjadi permasalahan atau perselisihan antara suami-istri.

2. Ketika suami dalam keadaan marah.

3. Ketika diucapkan dalam rangka menjawab permintaan istri untuk diceraikan.

Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, menguatkan pendapat bahwa jika seseorang mengucapkan kepada istrinya lafadz kinayah dalam salah satu dari tiga keadaan diatas, maka berlakukah hukum talak meskipun tanpa adanya niat. Sebagaimana pendapat dalam madzhab hanafi dan hambali.

Sementara menurut madzhab maliki, syafi’i, dan sebagian ulama kalangan madzhab hambali, lafadz kinayah tidak diberlakukan hukum talak kecuali jika dibarengi dengan niat talak dalam hatinya. [Lihat Al-Mughni, jilid 7 hal 322].

Dan menurut kami –wallahu a’lam-, kami lebih menguatkan tidak berlakunya qorinah pada lafadz kinayah, maka apa yang terjadi pada ukhti tidaklah termasuk talak, kecuali jika suami ukhti meniatkan talak.

NASEHAT SYEKH MUHAMMAD SHOLIH AL-MUNAJJID

Namun dalam hal ini, selayaknya kita berusaha menjauhinya, karena perkara-perkara seperti ini masuk dalam perkara yang musyatabah (samar). Dan permasalahan yang hampir sama juga pernah ditanyakan oleh seseorang kepada Syaikh Muhammad Sholih Al-Munajjid, dan diakhir jawabannya beliau memberi sebuah nasehat yang sangat baik, beliau mengatakan :

وعليه فإن وجود أولاد بين الزوجين ينبغي أن يكون دافعاً لهما للابتعاد عن استعمال ألفاظ الطلاق والتهوّر فيها ، لا أن يكون دافعاً للتحايل على الحكم الشرعيّ بعد إيقاع الطلاق والبحث عن مخارج وتتبّع رخص الفقهاء في ذلك.

Dan perkara ini, keberadaan anak-anak dalam rumah tangga seharusnya menjadi satu pertimbangan bagi mereka berdua untuk menjauhi lafadz-lafadz talak (perceraian), serta bermudah-mudahan dalam perkara tersebut. Dan janganlah pertimbangan kita untuk mengakali dan mencari-cari pembenaran tentang tidak berlakunya hukum talak setelah terjadinya talak, dengan mencari-cari rukhsoh para ulama dalam hal ini. [http://islamqa.info/ar/ref/45174]

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh : Ust. Aminullah Yasin

 

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: