PERAN AKTIF LUAR NEGERI INDONESIA YANG DINANTIKAN


Ditulis oleh : Ustadz Yusuf Utsman Baisa, Lc

www.al-irsyad.or.id

Situasi dunia yang sedang genting dengan krisis ekonomi yang bertubi-tubi menghantam negara-negara di Amerika dan Eropa hingga saat ini ternyata belum berakhir, bahkan telah disusul dengan diinjak-injaknya rasa kemanusiaan dan keadilan di Syria dan Myanmar.

Akibatnya fokus perhatian dunia jadi terpecah ke berbagai arah dan tujuan. Inipun menjadi ujian berat bagi PBB yang sedang terpuruk kewibawaannya, sebagai akibat dari sikapnya yang kurang tegas dalam membela kemanusiaan dan keadilan pada beberapa tragedi sebelumnya.

Di Syria kita dapati penistaan yang luar biasa kejamnya dari seorang kepala negara terhadap rakyatnya sendiri. Untuk itu PBB turun tangan dengan mengirim tim yang cukup terhormat dan serius dalam menangani persoalan kemanusiaan dan keadilan yang sedang mengalami penistaan, namun rupanya badan dunia itu tidak cukup berwibawa di hadapan Bassyar yang bengis dan sadis yang terus mendapat dukungan dan pembelaan dari RRC, Rusia dan Iran.

Di Myanmar pun kita menyaksikan drama serupa.Sejak lama pemerintah yang bengis dan sadis itu melakukan penistaan terhadap keadilan dan kemanusiaan, bahkan terus melanjutkan sikap sadisnya itu terhadap “objek” yang berbeda-beda. Kalau kemarin mereka melakukannya terhadap sosok melankolis yang bernama Aun San Syu Kie dan mendapat pembelaan yang luar biasa dari PBB, namun giliran berikutnya terhadap kaum muslimin etnis Rohingya yang lemah dan tidak berdaya menjadi bulan-bulanan kekejaman mereka namun sangat disayangkan PBB kurang memperhatikannya.

Seluruh manusia di dunia mempersaksikan kepalsuan demi kepalsuan dipertontonkan oleh lembaga besar sekelas PBB yang memiliki standar ganda yang sangat ironis dan memalukan adalah sikap para biksu yang katanya suci dan selalu menegakkan kemanusiaan dan keadilan namun semakin nyata keberpihakan mereka kepada egoism sengit sehingga membiarkan bahkan mendukung kekejaman dan kebengisan karena perilaku itu sesuai dengan paham kepentingan mereka yaitu ketakutan mereka Myanmar akan seperti Indonesia, dimana orang budha dan hindu yang semula mayoritas berganti menjadi minoritas. Juga hal serupa diperankan oleh para biksu yang katanya suci dan selalu menegakkan kemanusiaan dan keadilan namun semakin nyata keberpihakan mereka kepada kekejaman dan kebengisan disaat sesuai dengan kepentingan mereka yaitu ketakutan mereka Myanmar akan seperti Indonesia dimana orang Budha dan Hindu terkikis habis menjadi Muslimin.

Jika yang menjadi objek kekejaman dan kebengisan adalah muslimin maka para pahlawan kemanusiaan itu bungkam dan nampak kaku membisu, takut dianggap membela teroris.

Secercah harapan kita arahkan kepada SBY yang diharapkan bisa menyuarakan suara muslimin Indonesia yang darahnya telah mendidih oleh panasnya amarah saat mengetahui saudara mereka diperlakukan sadis dan kejam, dada mereka penuh sesak dengan luapan emosi akibat melihat perilaku para biksu yang melambangkan ikon kepalsuan secara terang benderang.

Orang jangan hanya bisa bilang “teroris” terhadap mobilisasi kekuatan muslimin saat mereka berangkat membela saudaranya yang dinistakan dan dizholimi oleh orang kafir.

Orang jangan hanya bisa bilang “arogan” ketika melihat beberapa orang dari muslimin ambil tindakan sendiri membunuhi para biksu dengan alasan kesalahan mereka membunuhi muslimin di Myanmar.

Pendidikan kepada sebuah bangsa (Indonesia) yang jumlahnya cukup besar untuk bisa berdisiplin dan mentaati aturan serta memiliki kesadaran yang tinggi dalam mengikuti petunjuk kepala negara dan jajarannya secara terus menerus, bukanlah pekerjaan mudah dan bisa dikerjakan dalam tempo yang singkat.

Kita melihat sendiri di Amerika dan Eropa yang orang bilang disana telah tegak aturan dan disiplin serta kesadaran mereka telah begitu tinggi, ternyata berkali-kali kita mendengar kejadian pemuda yang membabat habis kerumunan orang dengan alasan pembelaan terhadap “idiologi”.

Tidaklah cukup bagi seorang kepala negara dihadapan kejadian besar yang punya akibat sangat fatal, hanya dengan memberikan pengarahan agar rakyatnya bisa menahan diri, sementara pembantaian terus berlangsung dan orang mati kelaparan terus berjatuhan.

Sudah saatnya SBY bersuara lantang dan mengirim utusan yang berwibawa untuk mengingatkan Pemerintah Myanmar agar mau menghentikan pelanggaran mereka terhadap kemanusiaan dan keadilan, baik mereka yang melakukannya atau rakyatnya yang melakukan, keduanya sama saja selama kejadian itu terjadi di negeri yang mereka pimpin.

Kita beritahu mereka bahwa Indonesia penduduknya mayoritas muslimin, namun mereka bisa hidup rukun dan toleransi dalam beragama bisa ditegakkan serta penistaan terhadap kemanusiaan prosentasinya sangatlah kecil.

Sebagai kepala negara hendaknya segera mengambil tindakan pada saat pilihan yang baik masih banyak, jangan sampai terlambat sehingga pilihan sudah sangat menyulitkan untuk bisa bersikap bijak dan menyejukkan.

Apalagi paska periode ini SBY diharapkan bisa memimpin PBB, maka sudah saatnya untuk memiliki peran luar negeri yang cakap dan simpatik serta memiliki suara yang vokal dan berbobot, agar nampak di mata dunia bahwa kita bangsa besar yang memiliki perhatian terhadap tegaknya kemanusiaan dan keadilan.
*****

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: