Terkhusus Untukmu


Bismillahirrohmanirrohim…..

Surat ini aku tuliskan untukmu setelah aku memuji syukur kehadirat Alloh dan bersholawat atas Rosululloh shollallohu alaihi wasallam. Sengaja aku kirimkan surat ini, tanda rasa sayangku pada dirimu. Tanda bahwa engkau selalu mendapatkan tempat di sisi hatiku. Sungguh, semakin aku belajar, semakin sadar bahwa aku, belumlah sebaik dan sehebat yang kau bayangkan. Tapi tetap saja kau menganggapku sebagai yang terhebat.

Kau katakan pada setiap orang yang kau jumpai bahwa aku adalah anugerah untukmu. Kepada banyak orang, kau berucap bahwa kau begitu beruntung memiliki diriku. Tapi bukankah sebaliknya?. Aku yang beruntung memilikimu. Aku yang seharusnya berkata bahwa engkau adalah anugerah untukku.

Dulu, bertahun yang lalu, tatkala aku belum hadir, kau selalu berdoa pada Alloh. Terselip diriku dalam doamu, bahkan tatkala aku masih belum ada di alam ini. Dan ketika tanda-tanda diriku sudah ada dalam dirimu, doamu semakin menjadi-jadi. Tak pernah luntur walau sekejap, padahal engkau dalam kondisi yang lemah, dan semakin lemah seiring waktu yang berlalu. Hampir tiga ratus hari kau membawaku dalam dirimu. Kemanapun kau pergi tak lepas kau menjaga dan melindungiku.

Beberapa saat sebelum aku hadir di alam ini, kau melihat bayangan kematian berada di ujung matamu. Kau lihat itu dengan jelas. Tapi kau tetap berjuang untukku. Tak kau pedulikan rasa sakit itu. Tak kau hiraukan pedih yang menusukmu. Dan begitu kau dengar tangisku, tangismu pun ikut menemani kehadiranku.Terselip senyum, seraya berucap syukur kepada Ilahi Robbi. Ingin menangis rasanya tatkala kubaca kembali firman Alloh Subhanahu Wa Ta’ala dalam kitab-Nya:

وَوَصَّيْنَا الْأِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاثُونَ شَهْراً

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan” (QS. Al Ahqoof : 15)

Waktu pun terus berlalu. Kau berikan bagianmu untuk diriku. Kau berletih, bahkan kau anggap malammu seperti siangmu. Kau tak memberikan hak istirahat pada jasadmu, di siang dan malammu. Semuanya agar aku bisa terlelap. Hanya agar aku bisa terlelap dalam tidurku. Dan hanya agar kau bisa melihatku tersenyum dalam tidurku.

Ibu….

Ketika aku tumbuh, dimasa kanak-kanakku, kau pernah mengatakan bahwa panas perihnya hidup ini tak berarti untukmu. Asalkan aku bisa tertawa, dan tersenyum bahagia, kau akan mau memegang beban berat ini. Aku yang tak mengerti ucapanmu, malah menarik tanganmu untuk diajak jajan dan jalan-jalan. Bodohnya diriku.

Dan kini ketika waktu telah banyak melalui hidupku, akupun mengerti. Aku telah sadar bahwa, belum ada kebaikan yang aku lakukan untukmu. Tangismu yang tak pernah kering, masih ada dalam ingatanku. Dongengmu mengantarku tidur masih terngiang di telingaku. Caramu menyisir rambutku tak pernah hilang dari benakku. Dan ketika kau memandangku, seolah kau tak pernah ingin berpisah dariku.

Ibu…..

Engkaulah sekolah pertamaku. Engkaulah yang mengajariku pekerti, meski terkadang justru aku melukai hatimu. Tiada henti engkau mendidikku. Seraya berdoa agar aku menjadi anak yang berguna. Benarlah ucapan seorang penyair :

الأُمُّ مَـدْرَسَــةٌ إِذَا أَعْـدَدْتَـهَـا أَعْـدَدْتَ شَعْبـاً طَيِّـبَ الأَعْـرَاقِ

“seorang ibu adalah sekolah, bila engkau menyiapkannya engkau telah menyiapkan keturunan yang baik”

Hari pun mulai berlalu. Aku sampai pada masa remajaku. Mulai banyak kawan dan sahabat yang kumiliki.  Dan engkau wahai ibu, tak pernah berhenti mengingatkanku agar mencari kawan yang baik. Kau bilang, berkawan dengan orang baik akan membawa kebaikan, berkawan dengan orang yang tidak baik, akan menjerumuskan ke dalam jurang. Aku hanya mengangguk, meski terkadang ku langgar nasihatmu. Betapa berdosanya diriku.

Mulai ku melihat sosokmu dari sudut yang lain. Engkau tak hanya piawai mengurus kerajaan kecilmu. Justru kau ikut membanting tulangmu, memeras keringatmu. Kau tak pernah ragu membantu ayah. Kau bersama ayah tak pernah letih mencari rizki yang halal untuk bisa kita nikmati, meski pada kenyataannya akulah yang lebih banyak menikmatinya. Akulah yang dengan mudahnya menengadahkan tangan di hadapmu.

Mulianya dirimu wahai ibu dan beratnya perjuanganmu. Engkaulah yang layak untuk ku temani, engkaulah yang layak ku perlakukan dengan baik. Sebanyak apapun tetes air mata ini dan sekeras tangisku untukmu, sangat tak terbalas jasamu. Selalu dada ini bergejolak dikala mengingat kisah seorang sahabat yang bertanya kepada Rosululloh shollallahu ‘alaihi wasallam : “Wahai Rosululloh, siapakah manusia yang paling berhak mendapatkan aku perlakukan dengan baik?. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berkata; ‘ibumu’. sahabat itu bertanya lagi; kemudian siapa lagi setelah itu wahai Rosululloh?. Beliau kembali berkata; ‘ibumu’. Selanjutnya ia kembali mengulangi pertanyaannya, dan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam kembali berkata; ‘ibumu’. Kemudian barulah pada kali yang keempat, setelah orang itu kembali mengulang pertanyaannya, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pun berkata; ‘kemudian ayahmu’” (HR Bukhori Muslim)

Dan kini wahai ibu, aku telah dewasa. Aku telah mampu menatap dunia ini. Tapi tetap saja, engkaulah yang mendorongku. Engkaulah yang terus menyemangatiku.

Ibu…..

Kini kau telah menua. Tubuhmu melemah, rambutmu pun kian memutih. Ibu, aku ingin meraih surga-Nya. Aku tak ingin menyia-nyiakan surga, sementara untuk meraihnya begitu dekat denganku. Aku tidak ingin menjadi celaka dan sengsara, seperti yang pernah disabdakan oleh Rosululloh shollallohu alaihi wasallam :  “celaka seseorang, celaka seseorang, celaka seseorang”. Para sahabat bertanya : “siapa yang celaka wahai Rosululloh?”. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ اْلكِبَرِ أَحَدَهمَا أَوْ كِلَيْهِمَا َولَمْ يَدْخُلِ اْلَجنّةَ

“siapa saja yang mendapati kedua orang tuanya tatkala mereka sudah tua atau salah satu dari keduanya tetapi dia tidak masuk surga (karena berbuat durhaka)” (HR Bukhori dan Muslim).

Di penghujung surat ini wahai ibu, teruslah berdoa kepada Alloh, agar anakmu ini diberikan kebaikan dan keberkahan. Agar anakmu ini bisa membahagiakanmu, meskipun kutahu, aku takkan pernah mampu membalas semua yang pernah kau berikan padaku. Hanya yang bisa aku lakukan, aku kan selipkan namamu dalam setiap sholat yang kudirikan, sebagaimana perintah Alloh Subhanahu Wa Ta’ala

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap merekaberdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “WahaiTuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” (QS Al-Isro :24)

===============================

dinukil dari: gozirrachman.wordpress.com

Nb : untuk kawan-kawan, jangan pernah luntur mendoakan kebaikan bagi orang tua kita, khususnya di penghujung sujud dan selepas sholat.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: