INDONESIA MENGINGAT


Husen Maskati

Wakil Ketua Umum DPP PERHIMPUNAN AL-IRSYAD

www.al-irsyad.or.id

Indonesia mengingat” adalah kumpulan    dari catatan kecil bak peringatan bagi Pemerintah, pejabat dan aparat serta masyarakat Indonesia pada umumnya, di samping khususan umat Islam,para ulama, cendikiawan muslim, pemimpin partai, ormas Islam dan para peduli N.K.R.I, untuk benar-benar menyadari dan merasakan betapa ancaman sedang mengintai mencari kesempatan untuk maksud memecah belah serta mencabek-cabek N.K.R.I (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Kita sudah sepakat N.K.R.I, UUD’45, Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika adalah harga mati, untuk itu jangan sampai terulang kembali peristiwa terpisahnya Timor-Timur di tahun 1999, bagi konflik Papua maskipun baru di muali dengan percikan-percikan api di bumi Cendrawasih tersebut.

Lepasnya Timor-Timur dari NKRI, seharusnya di jadikan pelajaran berharga sehingga selalu dalam sikap siap siaga, agar jangan sampai kaki kita di patuk oleh ularberbisa untuk yang kedua kalinya dengan cara yang sama, sehingga daerah-daerah di wilayah Negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang lain, satu persatu akan lepas sebagaimana Timor-Timur.

Untuk itu :

  1. Sudah lupakah, tatkala Presiden SBY merayakan peringatan Hari Keluarga Nasional (HAGANAS) pada tanggal 29 Juni 2007 di Maluku, tiba-tiba bendera RSM muncul di depan Presiden SBY?”
  2. Sudah lupakah, “pernyataan Ketua Sub Komisi Asia Pasifik Konggres AS, Eni Valio Masaega ketika berkunjung ke Jakarta dengan tegas menyatakan, kalau Pemerintah Indonesia tidak bisa memperlakukan Papua dengan baik, berikan saja kemerdekaan. Saya tidak mengingkarinya”.
  3. Sudah lupakah “ berita-berita di stasiun TV dan media massa menyiarkan bahwa tuntutan merdeka di Papua semakin meningkat, setelah munculnya bendera Bintang Kejora, Bendera OPM (Organisasi Papua Merdeka) dalam acara Konfrensi Besar Masyarakat Adat Papua. Para peserta kongrespun meneriakkan pekikan “MERDEKA!” pada tanggal 04 Juni 2007.
  4. Sudah lupakah, “utusan khusus sekjen PBB, Hina Jillani secara provokatif menyatakan, “ di Papua telah terjadi pelanggaran HAM”. Itu, dia katakan setelah dia berkunjung ke Papua dan Aceh pada tanggal 15 Juni 2007. Itu semua setelah beberapa Jenderal AS berkunjung ke wilayah Aceh pada bulan Mei 2007.
  5. Sudah lupakah, “ strategi seperti tersebut di atas yang di jalankan oleh kelompok tertentu bahkan Negara asing dengan mengeksploitasi sentiment Agama di wilayah-wilayah Timur Tengah, Asia dll, khususnya di Papua dan Maluku.

Strategi yang sama sebelumnya telah digunakan dalam melepaskan Timor-Timur tahun 1999. Bagaimana peran Uskup Bello ketika itu sangat terkenal dan tidak dapat di mungkiri oleh siapapun, sejarah telah mencatatnya.

Kalau pada bulan Juni 2012, sekarang di Papua timbul teror, mengintimidasi masyarakat Papua dengan penembakan-penembakan gelap terhadap rakyat Papua dan orang asing serta para aparat keamanan baik Polisi dan TNI, maka tidaklah sulit dibaca kalau ini merupakan pengulangan aksi strategi dalam bentuk lain.

Karenanya,

  1. Sudah lupakah, “Siapa yang berada di balik berbagai perencanaan untuk memecah belah wilaya-wilayah Indonesia dengan mengedepankan sentiment agama dan suku?”
  2. Sudah lupakah, “Siapa yang menciptakan konflik di tengah masyarakat Indonesia dengan isu intoleransi bahkan di tengah angkatan bersenjata, anatara TNI dan Polisi, sehingga terjadilah di bawah dua kepemimpinan yang terpisah pada tahun 1999, sehingga keamanan dan kekuatan pertahanan menjadi lemah?”
  3. Sudah lupakah, “Siapa yang telah mengembargo TNI untuk membeli persenjataan dari Amerika setelah konflik berdarah di Timor Timur tahun 1999?”
  4. Sudah lupakah, “Siapa yang mendektekan UU Otonom Daerah nomor 22 tahun 1999, sehingga dengan undang-undang tersebut, daerah-daerah diberikan kewenangan luas, termasuk mengatur urusan keuangan, kekayaan alamnya dan di bolehkannya masuk investasi/investor asing secara langsung, sehingga kewenangan pemerintah pusat menjadi terbatas?”
  5. Sudah lupakah, “Siapa yang mempropokasi perang saudara dengan mengeksploitasi sintemen suku, agama (sara), sebagaimana telah terjadi di Papua, Ambon dan Poso Sulawesi Tengah, begitu pula di Kupang NTT (Nusa Tenggara Timur).
  6. Sudah lupakah, “Siapa yang menyibukkan Negara tercinta ini dengan isu sparatisme, terorisme dan intoleransi di daerah-daerah tertentu sehingga negeri kita seolah-olah sarang terorisme yang identik dengan Islam?”
  7. Sudah lupakah, “Siapa yang mengimpor, menjadi sponsor dan peramotor faham leberal/ lebarelisme, homunisme, imperialism, kapitalisme, skularisme, demokratisme liberal, sehingga demokrasi Pancasila tergusur, lantas siapa yang anti Pancasila, Islamkah atau leberalis, humanis, sekularis dan sebangsanya?”

Sekarang telah terdengar sayup-sayup bahkan mulai bisik-bisik, “Humanisme religius, leberalisme religius, berpikiran religius, pornoisme religius, pluralism religius dan sebagainya, di kemas dengan label halal, karena ternyata mulai tercium bahwa semua itu tidak laku terjual di Indonesia yang mayoritas muslim, sehingga merubah strategi dengan menjual barang haram dengan label halal seperti jual bakso babi dengan label halal.

Semua peristiwa, insiden dan catatan tersebut di atas kendati terpisah-pisah satu sama lain tetapi mempunyai keterkaitan dan hubungan dengan  berbagai peristiwa sebelumnya bahkan mungkin akan menimbulkan peristiwa atau insiden-insiden lain.

  1. Sudah tahukah, “Siapa inisiator yang merubah nama Irian Jaya atau Irian Barat menjadi Papua?”
  2. Sudah tahukah, “Kepala Badan Inteljen Negara (BIN) Letjen Marciono Norman mengungkapkan bahwa teror penembakan yang terjadi di Papua di lalukan oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang selama ini bermain di luar Papua, sekarang kelompok bersenjata yang selama ini berada di luar telah bersatu dengan kelompok yang berada di dalam”
  3. Sudah tahukah, “Pengamat militer Purwanto menilai, aksi penembakan di Papua di maksudkan untuk memancing perhatian internasional dan mereka telah berani melakukan penembakan secara terbuka di perkotaan, mereka sengaja berbuat demikian agar Papua bergolak, sehingga menjadi perhatian Peerserikatan Bangsa-Bangsa(PBB), Hak Azazi Manusia (HAM) dan lembaga-lembaga asing termasuk LSM-LSM asing dalam dan luar negeri, seperti yang pernah terjadi menjelang terpisahnya Timor-Timur yang sekarang menjadi Timor Leste”
  4. Sudah tahukah, “Ketua DPR RI Marzuki Ali menengarai, konflik di Papua sekarang ini di tunggangi kekuatan asing, karena setiap kali kasus pertambangan atau sumber daya alam di Papua di angkat kepermukaan, setelah itu muncul kasus kekerasan, apa ada korelasi antara usaha untuk meningkatkan sumber daya alam dengan meningkatnya tindak kekerasan, bukan hanya masalah Freeport, tetapi asal mengangkat sumber daya alam”.
  5. Sudah tahukah, “ Wakil Ketua DPR RI Priyono Budi Santoso mengataka, konflik di Papua merupakan percik-percik yang membahayakan”. Korbanya beragam mulai dari sipil, anggota Polisi, TNI, pelajar, warga Negara asing dan sebagainya. Korbanya tidak berpola dan mengganggu sendi-sendi kehidupan masyarakat di Papua. Kerusakan yang di timbulkannya sudah bersifat masif.
  6. Sudah tahukah, “ Tjahyo Kumolo politisi PDI Perjuangan anggota Komisi I DPR-RI mengatakan permasalahan di Papua sangat konpleks, dia yakin, bahwa peristiwa di Papua itu di gerakan oleh gerakan tampa bentuk, bukan kelompok masyarakat Papua yang di isukan ingin merdeka. Tudingan bahwa kelompok itu ingin merdeka hanya propaganda oknum tertentu yang mempunyai kepentingan kelompok kecil yang ingin menyudutkan masyarakat Papua”.
  7. Sudah tahukah, “Poengky Indarti, direktur LSM The Indonesian Human Riqhts monitor (Imparsial), mengatakan kasus penembekan misterius bermotif politik, pelaku penembakan di Papua tidak memiliki motif ekonomi seperti kasus kekerasan di Jakarta ataupun daerah lainnya. Pelaku penembakan misterius di Papua jelas ingin menciptakan situasi kacau dan ketakutan masyarakat. Direktur Imparsial tersebut, mengisaratkan agar berhati-hati di dalam menangani kasus Papua apalagi kasus Papua ini sudah menjadi perhatian Internasional. Dalam sidang evaluasi Dewan Ham PBB, telah 14 negara menyoroti kasus Papua tersebut, untuk itu harus segara di tangani dengan serius dan di selesaikan dengan sebaik-baiknya, supaya jangan terus-terusan menjadi sorotan Internasional”.
  8. Sudah tahukah, “TB Hasanuddin wakil ketua Komisi I DPR RI, munuding adanya campur tangan pihak asing dalam serangkaian konflik bersenjata di Papua, jika di liat dari data tindakan kekerasan yang terjadi beberapa bulan terakhir (18 bulan), wilayah penyebaran, waktu kejadiannya dan jumlah koarban jelas, kasus ini terorganisasi rapi dan sangat sistimatis dalam memilih sasaran. Nagara asing mana dan motif pihak asing yang bermain dalam serangkaian konflik di Papua, beliau tidak mau menyebutkannya”.
  9. Sudah tahukah, “ Purnomo Yusgiantoro, Menteri Pertahanan mengatakan, serangkaian teror penembakan di Papua harus di lakukan dengan cermat. Dengan mengupayakan langkah-langkah pendekatan untuk menciptakan kedamaian di Papua. Ganguan keamanan masyarakat akan di tangani pihak kepolisian seperti ancaman internal yang sifatnya masih dalam public order, Kamtibmas liar di atasi kepolisian karena itu ranahnya. Sedangkan masyarakat timbulnya sparatis di Papua di tangani oleh TNI / Kodam setempat”.
  10. Sudah tahukah, “Majlis Muslim Papua, Thaha Alhamid menilai, peran aparat keamanan di Papua, perlu di evaluasi sehingga kedepan dapat bekerja lebih baik dan dalam pengungkapan kasus harus transparan agar masyarakat dapat percaya dan kinerja Polisi lebih propesional, jangan sampai timbul masalah baru selain masalah penembakan (teror)”.

Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Syamsoeddin mengemukakan, “Perang tidak lagi bersifat umum. Kini, perang bersifat terbatas pada pergeseran dari perang simetrik menjadi perang asimetrik. Perubahan langskap global itu juga mengubah langkah regional dan nasional. Ia menambahkan, perubahan dalam langskap global, regional dan nasional itu tentunya juga mengubah perkiraan ancaman dan cara mengantisipasinya. Menurutnya, pada saat ini, potensi ancaman terhadap pertahanan dan keamanan Indonesia bukan lagi dating berupa serangan militer dari Negara lain, melainkan berupa kegiatan terorisme, gerakan sparatis, dan aktivitas-aktivitas illegal yang berkaitan dengan sumber daya alam”.

Indonesia mengingat, sebagai sebuah catatan sekaligus peringatan bagi Umat Islam sebagai bangsa terbesar di Negeri ini, juga Pemerintah tidak terkecoh dengan isu-isu global yang tendensius sehingga lalai dengan isu lokal yang ambisius, yang dapat menyebab- kan tergelincir ke jurang yang sama untuk kedua kalinya.

Wallahu a’lam bisawab

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: