MEDIA MASA HARUS DI TANGAN ISLAM


 

UNDERGROUND TAUHID –Masih ingat, 3 tahun yang lalu, ketika Gaza di porak-porandakan “pasukan setan” Israel, media massa kita memberitakan apa? Sebagian besar masyarakat kita menganggap bahwa Hamas kalah! Warga Gaza menjadi korban gara-gara Hamas bersembunyi diantara mereka! Tentara Israel hanya segelintir yang mati! Dan lain sebagainya…yang intinya adalah melemahkan mental kita sebagai umat Islam agar terucap di bibir kita kata-kata yang ditunggu-tunggu oleh musuh kita:

Sudahlah menyerah saja…”

Kata-kata klasik yang sebelumnya juga mudah dilontarkan umat kita untuk memproklamirkan kekalahan mental sebelum berperang.

Lalu apakah benar begitu yang terjadi seperti yang diberitakan oleh media massa kita –yang notabene ‘murid setia’ media-media massa asing milik Yahudi? Menurut banyak laporan dari pihak HAMAS sendiri, isu tentang kekalahan HAMAS ketika itu adalah bohong!

Namun kali ini saya tidak akan membahas tentang bagaimana pemberitaan itu yang sebenarnya, namun kita akan lebih banyak ngobrolin tentang betapa besar peran media massa dalam perang pemikiran.

 

Ok, bisa dimulai?

 

Ya,…media, ada banyak alasan kenapa harus berada ditangan umat Islam. Atau minimal umat Islam harus mampu mendirikan kantor-kantor surat kabar, stasiun-stasiun televisi yang menyaingi media-media mainstream. Itu karena media di era informasi seperti sekarang ini menjadi produk yang dikonsumsi layaknya kebutuhan pokok. Dan setiap media tersebut mampu menyebarkan setiap informasi apapun bentuknya pada setiap orang dan mampu memberikan pengaruh baik kepada pemikiran seseorang hingga kepada sikap atau perilaku seseorang. Jika umat Islam tidak pernah mampu menguasai media atau membuat media tandingan, maka peran pengaruh-mempengaruhi itu tadi pasti diambil alih oleh pihak musuh atau pihak orang yang hanya berorientasi modal.

 

Media yang cukup memberikan pengaruh besar bagi masyarakat adalah surat kabar dan Televisi. Surat kabar karena media ini merupakan media cetak periodik yang sangat terjangkau, mudah didapat, beritanya aktual, dan terbit setiap hari (jarak periode terbitnya sangat dekat). Memang semakin dekat jeda waktu terbitnya suatu media semakin besar pula efek yang dihasilkan. Sedangkan televisi, adalah media yang memiliki pengaruh tertinggi hingga saat ini karena televisi adalah media yang melibatkan indera terbanyak bagi audiensnya. Dengan menggunakan audio dan visual, televisi mampu mempengaruhi lebih kuat pada emosional seseorang. Iklan-iklan yang ditampilkan di media cetak hanya berupa gambar diam beserta beberapa tulisan, tidak sekuat pengaruhnya dibandingkan dengan iklan tersebut dibuat versi televisinya. Dengan audio-visual, setiap hal yang biasa-biasa saja yang disuguhkan didalam kotak persegi itu menjadi sangat memukau dan luar biasa.

Saat ini…Sudahkah media-media massa di negeri  ini memberikan ruang bagi Islam untuk berdakwah secara totalitas? Artinya bukan berarti seluruh program dilimpahkan untuk dakwah, namun pernahkah umat Islam diberikan porsi untuk mendakwahkan agamanya secara murni, tanpa ada batasan sensor maupun aturan-aturan dari media tersebut? Saya rasa belum pernah seperti itu. Acara-acara pengajian di televisi tidak lain hanyalah pelengkap sang produser agar stasiun televisi itu nggak dianggap lupa sama agama. Topiknya juga topik-topik ringan yang terus diulang-ulang dan pembawaannya datar-datar saja. Itupun ustadz yang dipilih harus ustadz yang populer dan nggak ‘neko-neko’. Nggak percaya? Coba aja kita yang mengajukan ustadz, pilih ustadz Abu Bakar Ba’asyir, lalu kita bahas tentang thagut atau jihad fii sabilillah. Adakah media yang mau menerima siaran program kajian itu? Kalaupun ada yang mau, pasti akan ada tekanan dari pihak-pihak lain untuk menghentikannya.

Tidak banyak umat Islam yang mengerti tentang pentingnya peranan media dalam dakwah. Buktinya, ratusan juta umat Islam diindonesia ini hanya sedikit yang berambisi mendirikan media dakwah sendiri.

Seorang ilmuwan dan seorang da’i di India, DR. Zakir Naik, pernah bercerita tentang usaha beliau untuk melobby sebuah stasiun televisi untuk mendakwahkan Islam tanpa disensor dan diatur. Ketika itu waktu yang diberikan hanya beberapa puluh menit saja, Alhamdulillah, mampu menyedot perhatian pemirsa dan direspon secara positif. Sehingga stasiun televisi itu rela membayar DR. Zakir Naik atas program tersebut. Namun beliau menolak, beliau katakan, “Saya tidak butuh uangmu, cukup berikan saya waktu lebih banyak lagi untuk mendakwahkan Islam di televisimu”.

Beliau tahu betul bahwa berdakwah melalui media massa yang menjangkau khalayak luas itu adalah kesempatan yang sangat berharga. Yang peluang itu tidak dapat dinilai dengan uang.

Saya sebagai bagian dari umat ini, tidak terlalu muluk-muluk dalam menentukan cita-cita. Cita-cita itu hanyalah MENJADIKAN MEDIA MASSA DIGENGGAMAN UMAT ISLAM! Karena tanpa itu, fase perang pemikiran yang sangat panjang ini tidak pernah kita menangkan! Musuh-musuh yang selalu kita undang di rumah kita dengan wujud program-program televisi akan selama menjadikan umat ini sebagai budak rating dan nafsu para pemilik modal dan pendominasi pemikiran yang kontra-perjuangan Islam. Wallahua’lam.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: